Wednesday, 12 September 2012

Psikologi Umum (Sejarah, Pendapat Para Ahli, dan Obyek Pembahasan Psikologi )

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan psikologi (ilmu jiwa) sangat pesat sesuai tuntutan zaman. Tetapi, perkembangan itu belum mencapai kesempurnaan yang dimaksud. Dalam penyempurnaan tersebut, ahli psikolog menciptakan metode-metode untuk menyelidiki fakta-fakta hidup kejiwaan manusia dan makhluk lainnya. Obyek penyelidikan psikologi adalah jiwa. Jiwa cenderung berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi. Para ahli menemukan sistem pendekatan (sistem of approach) yang sesuai dengan watak dan sifat hidup kejiwaan (congment dengan watak atau sifat kejiwaan).
Dalam kaitannya dengan ini, sebelum kita mempelajari psikologi lebih jauh, maka kita juga harus mengetahui bagaimana sejarah psikologi agar lebih mudah memahami maupun mempelajrainya. Karena dengan kita mempelajari psikologi, kita akan mengetahui bagaimana karakter atau sifat pada diri pribadi maupun orang lain.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah perkembangan psikologi?
2. Bagaimana pendapat para ahli psikologi tentang “psikologi”?
3. Apa objek kajian yang digunakan dalam “psikologi”?

C. Tujuan penulisan
1. Menjadikan manusia yang lebih baik
2. Untuk mengubah cara-cara hidup, tingkah laku dan pergaulan dalam masyarakat.
3. Untuk mengetahui pribadi masing-masing individu.

BAB II
PSIKOLOGI DALAM LINTAS SEJARAH


A. Sejarah Perkembangan Psikologi
“Psikologi” berasal dari Yunani “Psyche” artinya jiwa dan “logos” artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi, psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa serta macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Sebelum berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang definisi dari nyawa maupun jiwa. Nyawa adalah hidup jasmani yang berupa perbuatan dalam proses belajar, sedangkan jiwa adalah daya hidup rohani yang berisifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur perbuatan pribadi.
Jiwa mengalami perubahan disebabkan oleh faktor individual maupun sosial kultural yang melingkupinya. Pada abad sebelum masehi, para ahli fikir Yunani dan Romawi seperti socrates, aristoteles, plato dan galenus, dan lain-lain telah berusaha mengetahui kejiwaan manusia dengan cara spekulatif (dugaan saja) dan merupakan berpikir filosof kuno. Pada ke-17 s/d 19, psikologi dipengaruhi oleh ilmu alam. Mereka beranggapan, jiwa tunduk pada hukum-hukum alam biasa, menyelidiki dan menguraikan proses dan penyataan spekis menurut hukum alam, yaitu hukum sebab-akibat (kausal). Psikologi yang terpengaruh perkembangan ilmu kimia menyatakan, sesuatu terjadi dari zat terkecil dari unsur pokok. Ahli-ahli berpendapat, jumlah atau kumpulan unsur-unsur mewujudkan atau kebulatan yang berarti. Dengan demikian jiwa dianggap sebagai benda mati, yang proses berlangsungnya mekanis dan tunduk pada hukum. Manusia hanya djadikan objek, pribadinya tidak dapat mempengaruhi atau mengatur proses dan pernyataan psikisnya sendiri. Perpaduan ini disebut asosiasi, dan unsur-unsur yang terpadu menjadi kebulatan (totalitas) menurut hukum disebut psikologi.

B. Pendapat-Pendapat Para Ahli Psikologi
1. Socrates (469-399 SM)
Karena terpengaruh para Sophis Socrates mengajarkan logiga sebagai alat yang terpusat pada diri, bahkan lebih sekedar promosi terhadap gagasan yang relaif, dan itu merupakan kebenaran yang dicintai, diharapkan dan diyakini. Socrates juga berpandangan bahwa setiap manusia memendam jawaban dalam berbagai persoalan yang nyata. Masalahnya mereka tidak menyadarinya, sehingga diperlukan orang lain, misalnya bidang untuk membantu manusia untuk membentuk sebuah ide. Socrates mengembangkan idenya menggunakan metode tanya jawab atau disebut juga “socratic” metod atau “maieutics”. Maieutics dihapus oleh R. Rogers (1943) menjadi teknik dalam spiko terapis atau “non direcItive techniques”, yaitu teknik spikologi untuk menggali persoalan-persoalan dalam diri pasien sehingga ia menyadarinya tanpa diarahkan oleh spikolog atau spikoterapinya. Socrates menekankan pengertian “diri sendiri” bagi manusia. Semboyannya adalah “belajar yang sesungguhnya pada manusia adalah belajar tentang manusia.”
2. Plato (427-347 SM)
Indra manusia tidak dapat dipercaya atau diyakini, karena banyak yang menyesatkan. Kebenaran yang hakiki tidak dapat dicapai indera karena semua yang nampaka palsu. Sesuatu yang hakiki dapat berupa ide.
Mengenai jwa, Plato menyebutnya sebagai sifat immaterial yang desebabkan, jiwa sejak dulu sudah ada pada alam sensurik atau dikenal “pre eksistensi jiwa”. Menurutnya jiwa menempati dunia sensoris (penginderaan) dan dunia idea (berfikir). Berbicara tentang jiwa sensoris, Plato membedakan antara kehendak dengan keinginan. Kehendak dikuasai akal sedangkan keinginan bersifat menentang akal. Selain itu Plato menyebutkan tiga aspek pada manusia, yaitu: berfikir, kehendak dan keinginan. Ketiga aspek ini mempunyai lokalisi sendiri-sendiri berfikir (logitikon) mempunyai lokalisasi di otak, kehendak (thumeticon) mempunyai lokalisasi di dada dan keinginan (abdomen) mempunyai lokalisai di perut. Ketiga istilah tersebut disebut “tri chutomi” yaitu yang mendasari aktivitas-aktivitas kejiwaan manusia. Menurut Plato dunia memilki kebajikan: kebijaksanaan akal, keberanian berkehendak dan penguasaan diri patuh pada akal.
3. Aristoteles (384-322 SM)
Hakikat segala yang berwujud adalah nampak oleh indra. Setiap yang nampak memilki dua pengertian, yaitu “hule” artinya materi atau bahan yang terbentuk, dan “morthe” artinya bentuk benda, kemudian istilah tersebut dengan “hole mortheisme”. Dalam teorinya Aristoteles mengklasifikasikan:
a Anima Vegetativa, jiwa tumbuh-tumbuhan yang terbatas makan dan berkembangbiak saja.
b Aniam Sensitiva, jiwa yang fungsinya mengindera dan menggunakan nafsunya untuk bergerak dan bergerak.
c Anima Intelektiva, jiwa manusia yang berfungsi untuk berfikir dan berkehendak.
Aristoteles mengindentifikasikan berfikir dan berkehendak dengan istilah “dichotomi”.
4. Jhon Locke (1632-1704 M)
Jhon Locke adalah peletak dasar-dasar aliran environmentalism (empirism). Di kemukakan bahwa pengalaman merupakan faktor utama dalam perkembangan individu. Pengalaman ini dapat diperoleh dari faktor lingkungan. Dua aspek hubungan dengan lingkungan, Jhon Locke membaginya dalam: sensation (pengideraan) dan reflection (refleks). Satu prinsip lagi yang dikemukakan Jhon Locke adalah behaviour modification (modifikasi tikanglaku), yaitu “all behaviour is originally learned” (tingkah laku pada dasarnya dipelajari). Dalam pendidikan, aliran ini dinyatan suatu faham yang faktof dan keturunan tidak diakui adanya.

C. OBYEK PEMBAHASAN PSIKOLOGI

Psikologi mempunyai obyek, yaitu jiwa. Sekarang ini belum ada seorangpun yang dapat mengetahuinya, karena bersifat abstrak. Menurut Nigel C. Benson dan Simon Grove, bagian-bagian yang dikaji oleh psikologi terdiri atas:
1. Psikologi Perkembangan
2. Psikologi Sosial
3. Psikologi Perbandingan
4. Psikologi Individual
5. Psikologi Kesehatan, dan lain-lain

Ditinjau dari obyeknya, psikologi dibagi:
1. Psikologi Metafisika (meta= di balik, di luar; fisika= alam nyata)
Yang menjadi obyeknya adalah hal-hal yang mengenai asal usul jiwa, wujud jiwa, akhir jadinya dan sesuatu yang tidak terwujud yang tidak diselidiki dengan ilmu alam atau fisika.
2. Psikologi Empiris (empiris= pengalaman)
Dipelopori oleh Bacon dan John Locke. Menurut ahli-ahli empiris psikologi, tidak didasarkan dan diuraikan dengan falsafah atau teologi, melainkan pengalaman. Untuk memperoleh bahan, psikologi empiris menggunakan percobaan (eksperimen).
3. Psikologi Behavioursme (behaviour= tingkah laku)
Pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, lahir pada abad 20, dan dipelopori oleh Mac Dougall. Para ahli paham ini mempunyai prinsip-prinsip:
a. Obyek psikologi adalah behaviour yaitu gerak lahir yang nyata, reaksi-reaksi manusia terhadap rangsangan tertentu.
b. Unsur behaviour ialah refleksi, yaitu reaksi tak sadar atas perangsang dari luar tubuh.

BAB III
PENUTUP


Kesimpulan:
1. Jiwa mengalami perubahan disebabkan faktor individual maupun sosial kultural.
2. Socrates (469-399 SM).
Setiap manusia memendam jawaban atas berbagai persoalan nyata. Mereka cenderung membutuhkan orang lain (bidan) untuk membantunya dalam menuangkan ide-ide.
3. Plato (27-349 SM).
Indera manusia tidak dapat diyakini kebenarannya karena kebenaran yang hakiki hanya berupa ide.
4. Aristoteles (384-322 SM).
Segala yang berwujud adalah nampak oleh indera, yang di dalamnya terdapat dua unsur yaitu “ Hole” dan “Morphe”.
5. Jonh Locke (1632-1704 M).
Mengemukakan bahwa pengalaman adalah faktor utama dalam perkembangan individu yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
6. Obyek yang digunakan dalam psikologi ini adalah jiwa.

DAFTAR PUSTAKA


Miarso, Yusuf Hadi. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1994.
http://www.teknologipendidikan.net/wp−content/uploads/2008/02/dsp_visi_Teknologi_pendidikan.pdf
http://cepiriyana.blogspot.com/2006/06/konsep-teknologi-pendidikan.html


















No comments: